Buscar

Jangan Ketinggalan!

Pengalaman pertama selalu merupakan yang teristimewa dan berkesan. Buat saya, salah satunya yaitu melahirkan anak pertama. Pengalaman melahirkan merupakan salah satu proses terpenting dalam hidup saya. Setelah mengandung, sebuah proses belajar mengasihi "sesuatu" yang ada dalam perut saya, sesekali mengobrol, bersenandung, berdoa, dan membacakan cerita untuknya yang-tak-bisa-kutatap-matanya bahkan hanya tahu wujudnya melalui citra layar kaca yang tidak jelas, kini waktunya ia hadir, mewujud: dapat kutatap matanya, kusentuh jemari mungilnya, kuhirup aroma tubuhnya, kupeluk raganya, dan kukecup keningnya. Kupikir itu merupakan sebuah pengalaman yang memang hanya bisa kausadari begitu menakjubkannya saat kaumengalaminya sendiri.

Berbicara tentang melahirkan, proses persalinan merupakan proses yang penting. Tentu jauh sebelum melahirkan penting untuk berkonsultasi terjadwal dengan dokter kandungan, dengan demikian kita tahu kondisi ibu dan janin. Beruntung bagi saya tidak ada kendala berarti. Sejak mendapati dua garis pada testpack, saya langsung memastikannya melalui USG oleh dokter kandungan. Meski bagi saya yang awam belum terlihat apapun, dokter menyelamati saya dan menjelaskan bahwa citra itu menunjukkan bahwa ovum telah terbuahi.

Saya hampir tak berkata apapun saat itu.  senang dan gelisah, setengah tak percaya karena begitu cepatnya, terharu, semuanya campur aduk: mengingat tak terasa apapun dalam perut saya selain rasa lapar yang memang agak kurang ajar belakangan. Berita itu bak kalimat ajaib yang memupuk saya menjadi supersemangat dalam mengetahui lebih dalam tentang proses mengandung dan melahirkan (setidaknya dalam waktu dekat itulah yang kuhadapi... untuk kemudian level selanjutnya adalah merawat bayi, memberi ASI, MPASI... Sungguh jalan-tak-ada-ujung 😂).

Farewell Dinner User Loyal Foody Surabaya


Bersama user loyal Foody
Kabar duka mendera kami para pegiat kuliner Surabaya hehehe *lebay*. Jadi ceritanya, perusahaan Foody yang asalnya dari Vietnam ini menutup semua kantor cabangnya di Indonesia kecuali yang di Jakarta. Jadi ga bakal ada voucher dan undangan kegiatan gathering atau workshop lagi dari Foody. Sedih sekali. Sedihnya lagi, bakal ga ketemu sama orang-orang baik yang saya kenal dari komunitas ini, baik tim maupun user.

Pada kesempatan gath terakhir ini, tim Foody mengundang para loyal user untuk makan malam di Old Wood Bistro.

Gathering User Loyal Foody Surabaya

Halo! Kali ini saya ingin berbagi pengalaman kuliner bersama para user loyal Foody dan tim Foody Surabaya.

Oh, ya, sebelumnya saya perkenalkan dulu, Foody merupakan sebuah aplikasi yang bisa diunduh di ponsel, berisi ulasan tempat kuliner di kota-kota besar di Indonesia. Tapiiii, Foody ini bukan aplikasi biasa hehehe... Tiap aktivitas di aplikasi ini akan diberi poin, kemudian poin yang dikumpulkan dapat ditukarkan dengan voucher makan yang bervariasi. Seru banget, kan! Kemudian, karena saya sudah beberapa bulan ini aktif mengulas di Foody, saya mencoba submit saat ada perekrutan user loyal di Surabaya, beruntung sekali saya termasuk yang terpilih.

Ok Google!

Halo! Seminggu ini Google Indonesia mampir ke Surabaya untuk sosialisasi fitur voice search-nya, lho! Seru sekali!
Dengan slogan #SelaluTauYangSeru, Google mengkampanyekan kemudahan dalam pencarian tempat hangout yang asik dan produktif untuk kawula muda. Di acara ini sendiri, hanya dengan menunjukkan bahwa fitur voice search di ponsel sudah aktif dan dapat digunakan, kita bisa mendapatkan produk, cinderamata, ataupun jasa secara cuma-cuma dari pihak yang sudah bekerja sama dengan Google.
Dari keenam tempat yang direkomendasikan Google, saya sendiri telah mendatangi tiga tempat dan berkesempatan mengikuti dua lokakarya serta mendapatkan satu jasa tanpa dipungut biaya. Selain itu, saya juga mendapatkan isi ulang saldo GoPay, lho!

Lost in Frenchlation #1: Swimming Pool (2003)

Lost in Frenchlation merupakan acara pemutaran film Prancis yang diadakan oleh IFI Surabaya dan komunitas Screen Pills. Pada bulan Oktober ini dua film bertemakan thriller karya sutradara terbaik Prancis akan diputar pada hari Kamis tanggal 20 dan 27 Oktober 2016 di auditorium IFI Surabaya. Pemutaran film ini terbuka untuk umum (18+) dan tidak dikenakan biaya masuk.


Promo Carl's Jr. 60K



Hi there. Lama sekali sejak postingan terakhirku ya.
Bukan nggak sempat, semua kan soal prioritas.
Kupikir juga ga bakal ada yang baca blogku soalnya memang nggak up to date gitu hehe…
Bicara blog bingung juga mau diisi apa, soalnya kalau dulu suka sering ke konser atau travelling jadi bisa nulis tentang itu. Berhubung sekarang seringnya makan di luar karena cari tempat adem soalnya Surabaya panas banget jadi aku hendak memposting tulisan tentang tempat-tempat yang pernah aku kunjungi yaa…
Mari mulai dengan Carl’s Jr. Resto siap saji ini belakangan mulai menjamur di Surabaya, kalau dulunya cuma ada di bandara, sekarang sudah ada beberapa cabangnya. Yang paling sering kukunjungi sih yang ada di Darmo soalnya tengah kota.
Sebelum-sebelumnya aku ke sini cuma kalau hari Jumat soalnya ada promo buy 1 get 1 free gitu buat burgernya. Burgernya aja lho ya... Jadi musti bayar lagi buat maketin kentang sama minum, yaa total pengeluarannya nggak pasti gitu soalnya burgernya yang promo beda-beda tiap pekan...

Tapi sekarang lagi ada promo baru sampai akhir Oktober, namanya paket Real-Deal, dan guess what?! Murah banget…

Candi Brahu dan Maha Vihara Majapahit

Safety Riding, ya!
Banyak orang beranggapan kota-kota kecil di sekitaran kota besar hanya akan menjadi bayang-bayang kota besar tersebut. Saya tidak sepenuhnya setuju. Menurut saya tiap kota akan selalu memiliki kesan tersendiri baik oleh penduduk maupun pengunjungnya. Maka penting untuk mengenal tiap daerah dengan baik, siapa tahu jodoh kita di sana *ngelantur*

Candi Brahu
Suatu saat saya bersama dua teman saya nekat ke Mojokerto dengan berkendara sepeda motor. Tidak ada tujuan spesifik sebenarnya, bertolak dari saya yang belum pernah ke Mojokerto dan teman saya yang sok tahu tentang Mojokerto yang ujung-ujungnya nyasar jugaaa. Jujur saja pengalaman saya akan Mojokerto sebatas pabrik Ajinomoto yang selalu jadi patokan temu saat hendak KKN di Nganjuk. Selain itu, saya sama sekali nggak pernah keliling Mojokerto. 

Perjalanan ini menjadi sangat berkesan karena selama ini saya tumbuh dengan kisah-kisah kejayaan kerajaan Majapahit, tetapi sama sekali belum pernah ke Mojokerto yang notabene saksi bisu kisah tersebut. Dari Surabaya, tidak sampai dua jam kami sampai di tujuan pertama yaitu Candi Brahu. Panas yang menyengat tidak menggugurkan semangat kami untuk menilik candi dan berfoto.

Rumah Sosis dan Paralayang Batu


Dekorasi Rumah Sosis
Kalau orang Jakarta "kaburnya" ke puncak Bogor, orang Surabaya ke Batu. Menurutku sekarang Batu sudah seperti kota wisata yang mengerikan. Di mana-mana jadi objek wisata. Saudaraku yang rumahnya di dekat Jatim Park sering kali mengeluhkan susahnya air, katanya itu dampak dari banyaknya penginapan di sana. Well then, mari kita tinggalkan masalah itu, bukannya egois tapi dari awal aku bukan mau cari solusinya. Aku kan bilang orang Surabaya ke Batu buat kabur dari rutinitas perkotaan dan hawa yang panas, jadi biarkan tetap demikian, yang penting buang sampah pada tempatnya ya...

Oke, tujuan utamaku kali ini sebenarnya ke tempat paralayang di Gunung Banyak yang lagi hits karena ada Omah Kayunya (ga niat paralayang sih, ga nyali coy).

Ubaya Bali Festival 2014



6 Juni 2014, Lapangan Parkir Perpustakaan Ubaya

Apa yang pertama kali terlintas dalam benak saya ketika mendengar event bertajuk Art and Balinese Culture adalah kenangan akan Bali. Tapi kalau ditilik lagi, kenangan akan Bali versi anak muda seperti saya (ceileh) nggak akan jauh -jauh dari pariwisatanya, pantai dan pemandangan alam, geliat pusat perbelanjaan dan kuliner di Denpasar, juga kafe-kafe di Ubud, yaaa, intinya saya miskin akan kenangan seni dan budaya dalam konteks pertunjukan kesenian, menyedihkan. Sekali waktu saya berkesempatan menonton operet Ramayana di Uluwatu, itu pun saya tinggal tidur karena jujur saja saya bosan. Maafkan.

Untuk acara yang baru pertama kali ini, UKM KH Ubaya cukup berhasil. Banyaknya kesalahan teknis yang mengulur waktu, membuat penonton (setidaknya saya) bosan. Tapi menurut saya, mereka harus berterima kasih kepada mbok pembawa acara yang nggak garing dan menjadi alasan saya bertahan. 

UKM KH Ubaya menyediakan photo-booth dengan aksesoris khas Bali dan lighting yang memadai, sayangnya backdrop-nya kurang tinggi. Selain itu juga ada kuliner khas Bali, es kelapa mudanya nagih! Di panggung utama, selain pertunjukan tari Bali yakni tari Baris dan tari Cilinaya, pengenalan akan budaya Bali dikemas semodern mungkin mulai dari peragaan busana khas Bali,  juga ada akustik dari UKHH Unesa, Etnicoustic, dan tidak ketinggalan Teatrikal Astaga (Asrama Tirta Gangga). Sebagai puncak acara ditampilkan arakan ogoh-ogoh oleh panitia.

Malam Seni TPKH Festival 2014



22 Maret 2014, Pura Segara Kenjeran.

Don’t judge a book by it’s cover. Saya berani bertaruh banyak orang yang sepakat dan mengamini quote tersebut. Jujur saja, saya bukan tipikal orang yang gampang menge-judge, tapi realistis saja, apa yang akan diberikan tidak akan jauh-jauh dari penawarannya, kan? So, I do really think that cover needs to be considered.

Begitu pun dalam konteks acara. Menurut saya, hal yang berperan besar dalam sebuah acara setelah poster, tentu saja tagline-nya. Harmony in Social, Spiritual, and Nature yang digagas oleh TPKH ITS berhasil membujuk saya untuk meluangkan waktu untuk menyambangi Pura Segara. Seingat saya, terakhir kali saya berkunjung ke pura ini sekitar dua tahun yang lalu, saat arakan ogoh-ogoh untuk menyambut hari raya Nyepi.

Semerbak aroma wewangian dari dupa persembayangan menyambut tamu yang datang, diiringi banjir salam om swastiastu dan senyum ramah dari panitia: saya merasa pulang ke rumah.

Destinasi Pecinta Sunyi

Pantai Trenggole berada di dusun Ngasem, Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta. Untuk sampai ke pantai Trenggole, saya dan kawan-kawan harus melewati jalan yang bergelombang dan berkelok-kelok. Di sepanjang jalan ini dapat kita temui rangkaian pantai lainnya. 

Mulanya, tujuan utama saya adalah pantai Pulang Syawal (lebih dikenal dengan pantai Indrayanti) yang memang telah tersohor dengan keindahannya, namun sesampainya di sana, saya tertarik dengan tebing di sebelah timur pantai ini. Tidak puas dengan pemandangan dari atas tebing, rasa penasaran membuat saya menelusuri jalan setapaknya. Rupanya di sisi lain tebing ini terdapat pantai yang lain. Tepat di ujung jalan setapak, tertera tulisan “Pantai Trenggole” pada sebuah papan kayu sederhana.

Setelah menuruni “tangga” yang seadanya, dengan bebatuan dan pegangan dari kayu pohon, sampailah saya pada pantai yang sangat sunyi. Tidak ada orang lain, selain saya dan kawan-kawan. Tentu saja saya merasa takjub karena suasananya sangat kontras dengan pantai sebelah (pantai Indrayanti) yang amat ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Di pantai ini berserakan batu-batu besar berwarna hitam berbentuk kubus. Rupanya batu-batu ini

Mari Bicara Liburan (5)

16 Agustus 2013

Selamat pagi, Bali. Untuk pertama kalinya di Bali, hari itu saya nggak tidur lagi usai subuhan (yey!) Pagi-pagi udaranya masih sejuk banget, suasananya juga masih asri, asyik pokoknya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, saya baru sadar kalau rumah neneknya Ikkel lebih keren dari rumah dia (haha xoriiii) Karena kemarinnya kami datang sudah malam, saya nggak sempat memperhatikan detail rumahnya. Baru, pagi harinya saya sadar kalau mulai dari depan, halaman, balean, juga detail dinding, atap, sampai pintunya keren banget. Favorit saya sih, ukiran pintunya yang kalau saya nebak (kayaknya) gambar rama-sinta gitu.


Mari Bicara Liburan (4)

15 Agustus 2013

Tari kecak merupakan salah satu ikon pertunjukan di Bali, untuk itu sehari sebelumnya kami sempat browsing dan menemukan pertunjukan tari kecak di Uluwatu. Tanpa pikir panjang kami mentransfer untuk tiket masuknya, kalau tidak salah 70.000 rupiah perorang. Kami sempat menelpon narahubungnya beberapa kali untuk memastikannya karena takut tidak kebagian tempat. 

Sekitar pukul 15.30 WITA kami sampai di daerah Uluwatu. Karena pertunjukan tari kecak masih lama, kami mampir ke pantai padang-padang, kira-kira 10 menit dari Uluwatu. Pantai ini sangaaaat keren! Meski telah ramai oleh pengunjung (yang kebanyakan bule) pesonanya nggak kunjung memudar *tsaaahh. Untuk ke daerah pantai, dari jalan raya harus menuruni tangga yang kecil dan sempit, mungkin sengaja agar kesan alaminya terjaga. Sampai di bawah... pasirnya, lautnya, karangnya, ombaknya, panasnyaaaaa... officially summer! 

Pantai ini saya rekomendasikan untuk kalian yang mau renang, kumkum, main pasir, main bola, tanning, apapun deh. Namun karena waktu yang kami punya tidak banyak, kami sengaja nggak berenang dan berencana akan

Mari Bicara Liburan (3)

14 Agustus 2013

We're going to Ubud that day. Yup, time to living life, breathing air... aaaaaaam so exciteeed! 
Selain seambrek daftar pantai se-bali, Ubud merupakan daerah yang juga sangat ingin saya kunjungi. Monkey forest menjadi tujuan utama kami kali ini. Untuk masuk kami dikenakan biaya 20.000 rupiah perorang, tentu saja harga tiket pengunjung domestik ya, bule beda lagi. Sebelum masuk daerah hutan terdapat banyak peringatan agar para pengunjung tidak membawa barang-barang yang dapat menarik perhatian para monyet seperti kacamata, perhiasan, dan makanan karena para monyet yang penasaran dapat dengan mudah mengambilnya ketika kita lengah. Selain itu, untuk memotret pun telah diperingatkan untuk tidak terlalu dekat dengan para monyet, ya intinya kalau tidak mengenal baik sifat-sifat para monyet ada baiknya tidak terlalu memaksakan diri untuk berinteraksi dengan mereka.


Mari Bicara Liburan (2)

Bali memang memesona; alamnya, budaya, kuliner, semuanyaaa khas dan 'bali banget'. Mulai dari bangunan rumahnya yang memang masih dipertahankan sampai sekarang, sampai daerah-daerah wisata yang telah dikembangkan dan menawarkan segala kebutuhan pengunjungnya. Ada yang sengaja di-setting ramai; asik buat hangout, jajan sambil ngobrol bareng teman-teman, nggak peduli waktu pagi-siang-sore-malam. Ada juga yang sepi, masih asri, dekat dengan alam, dan biasanya diburu untuk menenangkan pikiran, atau bahkan untuk mengasah pengalaman spiritual. 

Bali suka berdandan. Pura dan rumah tradisional yang identik dengan bata merahnya, serta tanaman bunga kamboja seakan membangun suasana yang khas. Belum lagi wanginya yang sepanjang hari, sebab tak luput dari sesaji dan dupa di mana-mana. Suasana itulah yang membuat (saya) merasa nyaman, seperti pulang ke rumah.

Sesampainya di Bali, kira-kira pukul 10.00 WITA kami tanpa mandi terlebih dahulu bergegas mengunjungi Pantai Sanur. Sebenarnya pantainya sangat indah, air lautnya bak cermin yang merefleksikan langit cerah saat itu, namun saya agak kecewa karena sanur sepertinya telah menjadi kompleks resort dan tak-ada-lagi-tempat-untukmu-kawan.


Sekembalinya kami dari sanur, kami memutuskan sorenya ke mall. Sebenarnya saya kurang setuju karena, yaa, kayak nggak ada mall aja di Surabaya... Meski saya akhirnya setuju juga karena BeachWalk sebenarnya dekat dengan Pantai Kuta, sehingga dalam benak saya, nanti pas sunset bisalah ya nonton di Kuta. TAPI... ternyata dari BeachWalk pun, pemandangannya sudah keren banget. Sial. 

Mari Bicara Liburan (1)

Siapa sih yang nggak suka libur? Terbebas (untuk sementara waktu) dari rutinitas sehingga dapat melakukan hal-hal yang tidak sempat dilakukan, mengunjungi tempat-tempat idaman, menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih, hingga bermalas-malasan sepanjang hari. Ah, indahnya hari libur.

Libur semester ini telah saya rencanakan untuk nyambangi pulau dewata bersama ketiga teman saya; Ikkel, April, dan Detta. Kami telah memesan travel pergi-pulang yang perorang totalnya 420ribu, berangkat dari Surabaya tanggal 12 September sekitar pukul 18.00 WIB dan esoknya pukul 08.00 WITA kami sampai di Denpasar, tepatnya di rumah Ikkel (dia asli Bali sebenarnya, tapi kelakuan arek suroboyo ngahaha *peace), dan terjadwal kembali ke Surabaya tanggal 19 malam. Iya, seminggu!

Liburan ini memang sudah lama kami rencanakan. Lumayan, Ikkel bersedia menampung kami di rumahnya sehingga kami nggak perlu mikir pengeluaran untuk penginapan, hehe. But that's the point, kami inginnya gimana caranya meski liburan di Bali, pengeluaran kami untuk hidup sehari-hari harus seminim mungkin sehingga rupiah yang kami punya dikeluarkan dengan bijaksana. Bijaksana dalam artian mengeluarkan uang untuk hal-hal yang memang 'bali'. Super sekali.

Memilih menggunakan jasa travel memang bukan pilihan yang baik untuk kesehatan, badan yang tertekuk-tergulung-terduduk selama kurang lebih 15 jam, belum lagi goncangan karena supir yang kebut-kebutan, membuat badan pegal-pegal dan lebih terasa lagi ketika kami sudah sampai di Bali. Namun apa daya, harga tiket pesawat melambung seiring haplus idul fitri.

Nah, penasaran kami ke mana saja ketika di Bali? Ikuti blog saya yaaaa. Hehe.


Photograph

Foto merupakan bingkai kenangan; 
bisa kenangan indah menyenangkan yang membuat senyum-senyum sendiri atau malah sebaliknya, mengingatkan pada suatu hal yang membuat nyeri ulu hati. 
Foto seakan memiliki bahasanya sendiri;
bahasa visual yang mengirimkan sinyal ke otak untuk dengan sendirinya mengingat akan suatu peristiwa yang terjadi dalam foto tersebut. 
Potret semesta, diri sendiri, bersama orang lain, suatu tempat, peristiwa, yang telah terjadi baik disengaja maupun tidak, you know what i mean hehe...
Beberapa foto ini 'dirangkai' oleh teman-teman saya, senang sekali bisa mengingat tanpa harus berharap mendapat pinjaman mesin waktu doraemon.


@ikkel

@Nanotzain


Sebuah Kumcer: Perempuan dalam Cerita

Pada bulan April lalu aku mencoba mengikutsertakan sebuah cerita pendekku pada lomba menulis cerpen yang bertajuk Perempuan dalam Cerita. Meski tidak mendapat predikat 3 cerpen terbaik (hiks, hehe) cerpen yang kuselesaikan tepat satu jam sebelum deadline pengiriman naskah ini (alhamdulillah) berhasil masuk dalam 15 cerpen yang akan dibukukan. Dan yang akan kubagi di sini adalah... paksaan kepada kalian untuk membeli bukunya hehe, canda. So, let me tell you bout this book...
penampakan cover Perempuan dalam Cerita
Menurut situs resmi dari lomba ini, Perempuan Dalam Cerita adalah kumpulan 15 cerita pendek yang menggambarkan kehidupan perempuan di berbagai sisi dengan segala konfliknya, masing-masing memiliki teknik story-telling yang cukup intriguing. Cerita pendek ini dipilih oleh Ika Natassa dan Aulia Halimatussadiah (Ollie) dari 227 cerpen yang masuk sebelum deadline dan memenuhi syarat dalam lomba ini. Oh ya, seluruh royalti hasil penjualan buku akan disumbangkan ke lembaga pemberdayaan dan perlindungan perempuan.
Bagi kalian yang tertarik dengan kumcer ini dapat membelinya secara online melalui situs nulisbuku. Kuharap kumpulan cerpen ini mendapat tempat untuk semua kalangan pembaca, tidak hanya sanak saudara saya dan ke-12 penulis lainnya, hehe. Ini serius. Juga buat kalian yang telah membaca bukunya, kuharap bisa berbagi review di goodreads agar dapat menjadi pembelajaran untuk  kami.

salam, (jangan lupa beli)

Jogjakarta Tetap Istimewa (2)

Jogja memang istimewa. Kekhasan budi dan tutur dari penduduknya membuat saya nyaman berada di sana. Terlepas dari segala dampak kolonialisme dan bla-blanya, weits mari kita bicara tentang liburan saja. Setuju?

Baiklah, hari kedua saya di Jogja, sengaja saya bangun pagi-pagi untuk membalas dendam akan nggak nontonnya upacara semacam perayaan satu suro kemarin malamnya, karena hujan deras sekali (di daerah losmen saya hujan deras, dan di keraton yang jaraknya dekat sangat cerah! Sial.) Saat saudara-saudara saya sibuk dandan, saya yang belum mandi berjalan-jalan di gang-gang sekitar sosrowijayan. Saya mendapati banyak mural atau artwork di dinding-dinding sepanjang gang, cantik sekali.


Jogjakarta Tetap Istimewa (1)

Jogjaaaa! Libur semester kali ini, saya dan kedua saudara sepupu saya, mbak Dias dan mbak Estin, juga calon saudara ipar dari salah satu saudara sepupu saya (wadehel ._.), yang betul calonnya mbak Estin yaitu Bang Yudi, berencana ke Jogja, meski hanya dua hari di sana rasanya sangat berkesan. Jogja bukan hal baru untuk saya, saya telah beberapa kali ke sana namun baru kali ini saya berkesempatan untuk backpackeran hehe... Meminjam alasan untuk datang ke pernikahan sahabat dari salah satu saudara sepupu saya, kami pun berangkat dengan mengantongi izin orang tua.

Kami memilih naik bis, berangkat Jumat malam dari Surabaya dan Sabtu pagi sampai di Jogja. Setibanya di terminal Jogja (namanya apa ya, lupa) kami naik TransJogja menuju malioboro. Beberapa kali pindah bus (sistemnya bayar sekali aja, terus bisa pindah di halte tertentu sesuai rute perjalanan kita.. ah coba di Surabaya ada!) kamipun sampai di jalan malioboro. Berhubung sudah pagi dan perut minta diisi, kami sarapan soto di ujung jalan malioboro. This is it...

soto jogja

Setelah itu kami berjalan kaki menuju jalan sosrowijayan, yang masih daerah malioboro. Di sana banyak penginapan mulai dari hotel, motel, losmen, semacam guest house, sampai kos-kosan. Hampir setengah jam kami survei semua penginapan yang ada, karena kami hanya butuh hingga Minggu, kami memutuskan untuk mencari yang termurah, dan kami dapat 75.000 rupiah saja per kamar. Lumayan, meski kamarnya kecil, kasurnya springbed, spreinya bersih, ada kipas angin, dan yang paling penting meski kamar mandi berada di luar kamar, bersih banget!